Hot Isue
Gemerlap Dunia
APA yang terlintas di benak Belia begitu mendengar reffrain lagu “Gadis Malam” milik Java Jive ini? “Kayaknya sih bagian dari cerita prostitusi!” ujar salah seorang dari sekumpulan remaja yang asik hang out di sebuah mal. Hmm, jawaban yang tepat.
Miris ya, kalo denger lagu tersebut. Apalagi bila ternyata salah seorang dari Belia atau temen Belia justru terlibat di dalamnya.
Coba simak cerita yang dikutip dan TV7.com berikut. Seorang remaja putri kehilangan kegadisannya saat masih berusia 13 tahun. Karena kecewa ditinggal pacarnya yang puluhan tahun lebih tua, ia sekalian menceburkan diri ke lembah hitam. Hanya dalam waktu setahun, 13 lelaki yang kebanyakan om-om hidung belang dikencaninya. Pelajar sebuah SMP di Jakarta Timur ini pasang tarif Rp 300-500 ribu sekali kencan. Mira, demikian nama samaran perempuan berusia 14 tahun ini, juga mencari kepuasan seks dari pria-pria dewasa yang menurutnya lebih piawai di ranjang ketimbang teman-teman lelaki sebayanya.
Cerita itu, barangkali bisa membuka mata kita semua untuk lebih waspada, lebih peduli terhadap permasalahan yang satu ini. “Perilaku seks bebas di kehidupan remaja sekarang nggak sebatas dengan pacarnya aja, tapi udah banyak yang terjun juga sebagai PSK (Pekerja Seks Komersil),” ujar Mbak Yora dari MCR-PKBI Bandung. Bukan cuma Mbak Yora aja yang menyebutkan fakta tersebut.
Dalam catatan Unicef Indonesia, peningkatan pelacuran anak di Indonesia sudah mulai teramati sejak tahun 1992. Diperkirakan, prevalensinya mencakupi 30 persen dari total pekerja seks yang beroperasi di seluruh provinsi di Indonesia, atau setara dengan jumlah 40-70 ribu anak. Kini, Farid memperkirakan persentase itu meningkat menjadi sekitar 40 persen dari total pekerja seks. Di Batam, menurut penelitian Wagner dan Yatim (1997), anak-anak perempuan usia 13-15 tahun dilaporkan terlibat dalam industri seks.
Di Jawa, pelacuran anak dilaporkan merata di seluruh wilayah, dari timur ke barat, dari daerah metropolitan ke kota-kota kecil dan daerah pinggiran. Di Jawa Barat, sepertiga dari seluruh remaja yang berusia 18 tahun ke bawah dan tinggal di Bandung terlibat dalam pelacuran. Pekerja seks anak juga banyak ditemui di Kalimantan, Sulawesi, dan kawasan timur Indonesia. Bahkan, kini prostitusi anak menjamur di daerah konflik seperti Aceh dan Ambon.
Menurut fasilitator nasional dari NGO Group Mohamad Farid, dalam “Lokakarya Nasional tentang Eksploitasi Seksual Kepada Anak (ESKA)” pekan lalu, di Indonesia ada larangan keterlibatan anak di bawah umur yang belum menikah di tempat praktik pelacuran yang dilokalisir. Praktiknya, banyak terjadi pemalsuan usia pelacur anak.
Laporan Jones, Sulistyaningsih, dan Hull (1995) menyebutkan, dari 52 PSK di lokalisasi Dolly, Surabaya, yang diwawancarai tim peneliti mereka, hanya sedikit di atas seperempat dari total jumlah mereka yang mengakui secara terbuka usianya belum di atas 17 tahun ketika pertama kali terlibat dalam pelacuran.
Pada saat yang sama, terdapat 42 persen PSK yang menyatakan mereka masih sekolah sebelum memasuki dunia prostitusi. Sementara mayoritas mengakui mereka tidak tamat SD dan hanya 38 persen yang menyelesaikan SD, serta hanya sekitar 8 persen saja yang tamat SLTP. Unicef mencatat, sekitar 60 persen dari 71.281 PSK yang terdaftar di Indonesia di mana pelacuran terdapat di dua pertiga bagian Indonesia, usianya antara 15-20 tahun.
National Consultation on Child Prostitution (1996) mengungkapkan, permintaan terhadap pelacuran anak meningkat seiring pertumbuhan industri pariwisata. Ditambah lagi, para pedofil percaya bahwa berhubungan seks dengan anak membuat pelaku awet muda.
Rentan kekerasanAnak-anak korban kekerasan dan eksploitasi seksual rentan penularan penyakit menular seksual (PMS). Dina, misalnya, mengaku selalu menyiapkan kondom jika bekerja, namun tak jarang tamu tidak mau memakai alat kontrasepsi itu. “Saya enggak bisa menolak. Sebenarnya saya takut tertular penyakit seksual,” ungkapnya lirih.Organisasi Buruh Dunia (WHO) mengungkapkan, PSK anak rentan tertular PMS, infeksi di luar HIV/ AIDS (terdiri dari berbagai variasi penyakit menular seksual yang dapat mempengaruhi korban, bayi yang dilahirkan korban, dan juga klien), dan terjangkit penyakit HIV/AIDS.Menurut Farid, anak-anak kecil yang dilacurkan buta informasi dan belum matang, sehingga akan jauh lebih rentan tertular PMS dan HIV/AIDS daripada pekerja seks yang senior. Apalagi, jika mereka terlibat dalam pelacuran terselubung, sehingga tak terjangkau program pelayanan kesehatan apa pun dan dari pihak mana pun.
Pelacur anak juga rentan kekerasan seksual. Dina, misalnya, mengaku pernah dipaksa melayani delapan orang mabuk tanpa dibayar. Ketika menolak, mereka justru memukulinya. Dia tidak berani melapor ke polisi karena takut dilecehkan.
Selain itu, anak korban ESKA ini juga mengalami kekerasan dari petugas keamanan. Ijah mengatakan, “Saya pernah ditangkap saat razia. Di penjara, mereka suka mukuli kami, kami tidak dikeluarin kalau bos tidak bayar. Mereka juga suka minta dilayani saat kami ditahan,” ujar Ijah kesal.
Kehidupan keras yang mereka alami masih ditambah stigmatisasi dari masyarakat. Farid mengungkapkan, mereka menderita cacat sosial akibat pandangan negatif masyarakat. Stigmatisasi ini mempersulit pengentasan anak korban eksploitasi seksual melalui reintegrasi sosial dan penyembuhan psikologis efektif. Khususnya, jika hal itu diinternalisasi korban dan berhubungan dengan trauma mereka.
5 comments so far
Leave a reply



cambuk baik untuk obat introspeksi diri
Ya begitulah karena negara ini dalam kemelaratan mau tidak mau untuk mempertahankan hidup, anak-anak mereka menjadi pelacur. Kabanyakan pelacur cilik ini dari pulau Jawa, nah inilah yang memalukan mengapa wong Jawa menjadi pelacur, KKN dan kropsi juga Wong Jowo, perampokan dimana-mana Wong Jowo, pembunuhan dan perkosaan dimana-mana Wong Jowo, apakah memang mereka dilahirkan dunia Indonesia dengan karekter yang sudah ditentukan sebagai kualitas bangsa kriminal ? Kasihan bangsa tempe ini kok hidupnya sebagai budak-budak yang tidak mempunyai harga diri lagi, yang memang gambang dilecehkan oleh bangsa lain karena masih dalam kemeralaran kasihan bangsa RI Jawa ini.
Memang sangat memalukan suka Jawa ini karena dalam keadaan kemiskinan, anaknya harus melacur diri keluarganya diberi kehidupan dengan wang lender sunggu memalukan manusia-manusia Jawa, inilah bangsa jawa yang merusak nama bangsa Indonesia patasan saja Indonesia dilecehkan di Malaysia karena sebagian besar suka Jawa yang melacur diri dimana-mana apalagi yang latar belakangnya muslim. Sangat memalukan maetabat bangsa Indonesia, ya karena tidak ada jalan lain
karena RI dalam kemiskinan terpaksa bangsa Jawa anaknya harus merantau melacur diri untuk membawa nama harum bangsa Indonesia dibidang pelacuran dari keturunan Jawa. Ini dinamakan bahwa suku Jawa ini dilahirkan untuk menjadi sundal pelacuran dimana-mana dari dari pulau Jawa ke Malaysia terus kenegara muslim Arab Saudi keturunan kambing Ismail.
Dimana tanggung jawab pemerintah sekarang?
Pembunuhan pelacuran HIV AIDS narkoba kemiskinan rakyat indonesia dari jaman dulu udah cukup miskin di bohongin sama bapak negara indonesia ya itu suharto masa sekarang juga akan seperti dulu lagi matarakyatdi butakan dan tambah susah rakyat karna rakyat indonesia tidak tau sepenuh nya tingkah laku suharto jaman dulu kepada rakyat indonesia, dimata rakyat indonesia yang bodoh suharto pahlawan kalau bener tau sipat lakusuharto pasti menyedihkan membuat rakyat miskin …uang warisan bukan nya untuk rakyat miskin tapi hukum untuk anak anak nya apa mereka belum cukup korufsi uang rakyat dan makan tenaga rakyat miskin,keluarga suharto uang bermilliaran di bank of london dimana mana mereka punya uang uang dari mana mereka uang rakyat yang pasti Im sorry to say this wourd because istrue.
masa allah perbuatan yang seharus nya mereka tdk bolh terjrumus kedalam nya malh bnyak anak dibawah umur yang malh terlibat sungguh sangat memalukan dinegara yamg amat subur dan kayak akn sda .anak2 mnjadi korban